Minggu, 13 Juni 2021

Karakteristik Peserta Didik

 Bismillahirahmanirohim

Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik secara bahasa berasal dari kata “karakter” yang berarti ciri, watak, tabiat, perilaku dan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karakteristik peserta didik merupakan pola tingkah laku serta kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosial, sehingga terjadi aktivitas dalam mencapai cita-cita atau tujuannya (Munawaroh).

Dapat kita ketahui, bahwasanya karakteristik setiap peserta didik itu berbeda-beda. Oleh karenanya, tujuan dari memahami karakteristik siswa adalah untuk mempersiapkan hal-hal yang perlu diajarkan, bagaimana siswa dapat belajar sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel (aspek-aspek atau kualitas individu siswa) di dalam kondisi pengajaran. Aspek-aspeknya berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, kemampuan memahami serta kemampuan awal (Meriyanti, 2015)

Empat pokok dari karakteristik siswa yang perlu diketahui guru yaitu :

a. Kemampuan dasar seperti kemampuan kognitif atau intelektual (berpikir, memahami)

b. Latar belakang budaya lokal, sosial, ekonomi, agama dan lain-lain.

c. Perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, bakat dan lain-lain.

d. Cita-cita, pandangan masa depan, keyakinan diri, sikap optimis, daya tahan dan lain-lain.

Ragam-ragam Karakteristik Peserta Didik seperti:

 Etnik

Implikasi dari etnik yaitu pendidik yang melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja yang ada di dalam kelasnya. Data ini digunakan sebagai informasi bagi pendidik dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.

 Kultural/Budaya

Implikasi dari aspek kultu dalamral ini yaitu dalam proses pembelajaran, pendidik dapat menerapkan pendidikan multikultural.

 Sosial

Implikasinya yaitu variasi status-sosial, ekonomi, pendidik dituntut mampu bertindak adil dan tidak diskriminatif.

 Minat

Implikasinya yaitu dalam proses pembelajaran menghadapi tantangan abad 21, pendidik dapat menerapkan berbagai model serta strategi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), menantang dan inovatif, kreatif, menyampaikan tujuan/manfaat mempelajari suatu tema/mata pelajaran, serta menggunakan beragam media pembelajaran. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan minat belajar siswa.

 Perkembangan Kognitif

Tingkatan perkembangan kognitif peserta didik akan mempengaruhi guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi.

 Kemampuan/pengetahuan awal

Jika pendidik telah mengetahui kemampuan awal peserta didik maka itu akan memudahkan pendidik untuk menentukan dari mana pembelajaran akan dimulai. Cara yang dapat dilakukan pendidik untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik yaitu melalui teknik tes (tes objektif dan teknik tes subjektif) dan teknik non tes seperti wawancara.

 Gaya Belajar

Gaya belajar peserta didik perlu diperhatikan di dalam proses pembelajaran karena dapat mempengaruhi proses dan hasil belajarnya. Gaya belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu visual, auditif, dan kinestetik.

 Motivasi

Orang akan memiliki motivasi tinggi atau tidak dalam belajarnya dapat terlihat dari tiga hal yaitu: 1) proses keterlibatannya, 2) perasaan dan afektif peserta didik, 3) upaya peserta didik untuk memotivasi dan menjaga motivasi yang dimiliki.

 Perkembangan Emosi

Emosi bisa berperan dalam mempercepat atau memperlambat proses pembelajaran. Karena pada dasarnya emosi dapat membantu proses pembelajaran menjadi menyenangkan atau bermakna.

 Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial peserta didik dapat diketahui dari tingkatan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain maupun masyarakat sekitarnya..

 Perkembangan Moral dan Spiritual

Moralitas dalam diri peserta didik berawal dari tingkatan yang paling rendah menuju ke tingkatan yang lebih tinggi seiring dengan kedewasaannya.

 Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan, yang di mana gerakan-gerakan individu meningkat dari keadaan yang sederhana, tidak terorganisir, dan tidak terampil, kearah penguasaan keterampilan motorik yang lebih kompleks dan terorganisir dengan baik.

Tujuan dari mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik adalah untuk:

1. Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkaitan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.

2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik yang berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikutinya.

3. Menentukan program pembelajaran dan pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang guru jika ingin mengetahui karakteristik kemampuan awal dari peserta didik, dapat dilakukan dengan pemberian tes (tes objektif dan subjektif), wawancara, observasi, dan melihat latar belakang siswa. Tes yang diberikan berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada peserta didik, guru yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Manfaat memahami karakter anak didik yaitu:

1. Guru dapat mengelompokkan kondisi peserta didik sesuai dengan karakternya masing-masing.

2. Guru dapat memberikan pelayanan dan memberi tugas sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan peserta didiknya.

3. Guru dapat mengembangkan potensi yang dimiliki siswa baik berupa minat, bakat dan kegemarannya dan berusaha menghilangkan karakter buruk yang dimiliki anak.

Oleh karena itu, dalam mengenal dan memahami karakter peserta didik, seorang guru harus meluangkan waktu bersama peserta didik dan memberikan perhatian yang maksimal pada peserta didik dalam membimbing mereka agar tercapainya tujuan pendidikan. Karena sesungguhnya keberadaan dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugas ini, dapat memberikan energi positif bagi peserta didiknya dalam mewujudkan harapan, impian dan cita-cita yang luar biasa.

Beberapa karakteristik anak didik yang perlu dipahami oleh pendidik dalam rangka menyelenggarakan praktek pendidikan, karakteristik tersebut antara lain:

• Anak didik adalah subjek yaitu Anak didik yang memiliki pribadi sendiri atau konsep diri sendiri.

• Anak didik adalah makhluk yang sedang berkembang yaitu setiap anak didik memiliki perkembangan yang berbeda-beda, dalam setiap proses perkembangan tersebut ada tahapan-tahapannya.

• Anak didik hidup dalam dunia sendiri. Yang di mana mereka diperlakukan sesuai dengan usia atau dunianya.

• Anak didik hidup dalam lingkungan tertentu. Anak didik berasal dari keluarga yang berlatarbelakang lingkungan alam dan sosial yang berbeda-beda sehingga anak didik akan memiliki karakteristik berbeda-beda akibat pengaruh lingkungan ia dibesarkan atau dididik.

• Anak didik memiliki ketergantungan kepada orang dewasa. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu tiap anak bergantung kepada orang yang lebih dewasa untuk membimbingnya ke arah yang lebih baik.

• Anak didik memiliki potensi dan dinamika. Yang di mana ia memiliki potensi untuk menjadi manusia dewasa dan memiliki dinamika, yaitu aktif berkembang dan mengembangkan diri, aktif menghadapi lingkungannya dalam upaya mencapai kedewasaan.

Ada beberapa contoh karakteristik peserta didik diantaranya:

1. Senang bermain

2. Selalu ingin tahu

3. Selalu ingin diperhatikan

4. Suka mengganggu

5. Mudah Terpengaruh

6. Suka Meniru

7. Manja

8. Egois

9. Berani

10. Emosi

11. Polos

12. Suka menentang

13. Keras Kepala

14. Suka berkhayal

15. Kreatif

16. Senang dipuji

17. Ingin bebas

18. Mendambakan kasih sayang dan rasa aman

19. Selalu ingin mencoba

Cara-cara guru dalam memahami Karakteristik Anak Didik sesuai dengan tingkat pendidikannya yaitu :

A. Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar (SD)

Usia rata-rata anak sekolah dasar adalah sekitar 6 sampai 12 tahun. Jika mengacu pada tahapan perkembangan anak, dapat disimpulkan bahwa anak usia sekolah berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak tengah (6-9 tahun) dan masa kanak-kanak akhir (10-12 tahun).

Anak-anak usia sekolah memiliki karakteristik yang berbeda dari anak-anak yang usianya lebih muda. Anak-anak lebih senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang mengandung permainan, mengajak siswa berpindah atau bergerak (aktif), bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.

B. Karakteristik Anak Usia Sekolah Menengah (SMP)

Dalam perkembangannya, peserta didik SMP itu ada pada tahap periode perkembangan Operasional formal di umur 12-18 tahun. Ciri pokok perkembangan di tahap ini ialah anak sudah bisa berpikir abstrak dan logis. Dilihat dari tahapan perkembangan anak usia sekolah menengah (SMP) berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun) yang di mana terdapat beberapa karakteristik yang menonjol pada anak usia SMP ini, yaitu:

1. Terjadinya ketidaksesuaian antara proporsi tinggi dan berat badan.

2. Mulai menunjukkan ciri-ciri seks sekunder

3. Kecenderungan ambivalensi yaitu keinginan untuk menyendiri dengan untuk bergaul, serta keinginan untuk bebas dari bimbingan dan bantuan orangtua.

4. Senang membandingkan antara kaidah-kaidah dan nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.

5. Mulai mempertanyakan mengenai eksistensi dan sifat dan keadilan Tuhan.

6. Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.

7. Mulai mengembangkan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial.

8. Kecenderungan minat dan pilihan karier relatif sudah lebih jelas.

C. Karakteristrik Anak Usia Remaja (SMA)

Masa remaja dimulai sejak umur 12-21 tahun yang merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja dikenal sebagai masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan karakteristik, yaitu:

1. Menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya

2. Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi di masyarakat.

3. Menerima keadaan fisik serta menggunakannya secara efektif

4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.

5. Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

6. Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak.

7. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep untuk kepentingan bersama.

8. Membentuk tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

9. Memperoleh nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

10. Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas.

Daftar Pustaka

Meriyati. “Memahami Karakteristik Anak Didik”. Bandar Lampung: Fakta press IAIN Raden Intan Lampung, 2015. http://repository.radenintan.ac.id/10379/1/1.%20BUKU_KARAKTERISTIK_Meriyati_Fix_Baru.pdf

Munawaroh Isniatun. Pembelajaran Karakteristik Peserta Didik. Modul Belajar Mandiri. https://cdn-gbelajar.simpkb.id/s3/p3k/Pedagogi/Modul%20Bahan%20Belajar%20-%20Pedagogi%20-%202021%20-%20P2.pdf


Senin, 31 Mei 2021

Empat Kompetisi Guru Profesional

 Bismillahirahmanirohim

Empat Kompetisi Guru Profesional

Profesional Guru

Profesionalisme merupakan istilah yang mengarah pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari setiap anggota profesi dalam mewujudkan serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Profesionalisme guru merupakan cerminan dari sikap mental dan komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas kompetensi keguruan dengan berbagai upaya, strategi dan selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi, sehingga keberadaannya dapat memberikan manfaat yang bermakna (Sastrawan)

Kemendiknas (2013), Menyatakan bahwa tugas seorang guru antara lain yaitu:

Guru merupakan suatu profesi/jabatan yang membutuhkan keahlian khusus atau bakat sebagai seorang guru. Profesi ini merupakan profesi yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan. Tugas guru sebagai profesi meliputi: Mendidik ialah upaya untuk mengembangkan nilai-nilai kehidupan/kepribadian. Mengajar ialah kegiatan sebagai upaya untuk meneruskan serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih ialah upaya untuk mengembangkan keterampilan, kemampuan dan bakat peserta didik.

Saat di sekolah, guru harus mampu menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua yang mana dapat ditiru dan dicontoh oleh muridnya. Dan saat di Masyarakat guru merupakan salah satu orang yang dihormati dilingkungannya karena masyarakat berpandangan bahwa dari gurulah mereka bisa mendapat ilmu pengetahuan dan Teknologi. Melalui guru juga masyarakat berpandangan bahwa empat pilar kebangsaan yaitu: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI dapat dijaga dan dilestarikan. Oleh karenanya, masyarakat menjadikan guru sebagai panutan sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara yang menggagas “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani” yang berarti: jika di belakang guru dapat memberikan dorongan, di tengah guru harus mampu membangkitkan semangat, di depan guru harus memberikan contoh-teladan (Darmadi, 2015)

Menurut Darrmadi (2015: 166-169) Peran guru sebagai berikut:

• Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai organisator artinya “Guru memiliki peran dalam mengelola kegiatan akademik, membuat tata tertib sekolah, menetapkan kalender akademik, dan lain-lain. Semuanya di organisasikan, agar mencapai efektivitas dan efisiensi belajar mengajar sehingga tujuan belajar dapat tercapai”.. Sebagai seorang demonstrator (lecturer/pengajar), guru harus menguasai bahan, materi ajar, berusaha mengembangkan dan meningkatkan kemampuan yang dimilikinya.

• Guru sebagai pembimbing artinya guru harus membimbing peserta didik menjadi manusia dewasa yang dapat memecahkan masalahnya sendiri, pintar, terampil, berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia.

• Guru sebagai pengelola kelas (learning manager), artinya guru harus mampu mengelola kelas dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

• Guru sebagai fasilitator artinya guru menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan dalam belajar bagi peserta didik.

• Guru sebagai mediator artinya guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang media pendidikan, karena media pendidikan merupakan alat komunikasi, penyampaian pesan untuk mengefektifkan proses belajar-mengajar.

• Guru sebagai inspirator artinya guru dituntut untuk mampu memberikan inspirasi bagi kemajuan belajar peserta didik.

• Guru sebagai informator artinya guru memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain bahan pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru.

• Guru sebagai motivator artinya guru dapat mendorong peserta didik agar lebih bersemangat, bergairah dan aktif belajar.

• Guru sebagai korektor artinya guru dituntut untuk bisa membedakan mana nilai yang baik, dan mana nilai yang buruk, mana nilai positif dan mana nilai negatif. Kedua nilai yang berbeda ini seharusnya dipahami dalam kehidupan masyarakat.

• Guru sebagai inisiator, artinya guru dapat menjadi penggagas ide-ide baru untuk kemajuan pendidikan dan pengajaran.

• Guru sebagai evaluator, artinya seseorang guru dituntut untuk menjadi seorang penilai yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian pada aspek intrinsik berarah pada aspek kepribadian peserta didik, yakni aspek nilai (values).

• Guru sebagai supervisor artinya guru setidaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran.

• Guru sebagai kulminator aritinya guru berupaya untuk mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi).

Kompetensi Guru

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, kemampuan, bakat dan perilaku yang perlu dimiliki serta dikuasai oleh guru dalam melakukan pekerjaan/profesinya. Kompetensi Guru dalam Pasal 8 meliputi: Kompetensi kepribadian. Kompetensi pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial yang dipelajari melalui Pendidikan Profesi”.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru menyebutkan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru profesional meliputi:

Kompetensi Pedagogik ialah kemampuan yang perlu dimiliki guru dalam mengelola kelas, pelajaran, memahami peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mempraktikkan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi Pedagogik meliputi: 1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, 2. Paham terhadap peserta didik yaitu memahami peserta didik dengan menggunakan prinsip-prinsip perkembangan kognitif (berpikir), kepribadian, dan menelaah dasar pengetahuan peserta didik, 3. Mengembangkan kurikulum atau silabus, 4. Keahlian dal merancang pembelajaran yang dimana menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi/cara pembelajaran berdasarkan karakteristik yang dimiliki peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, materi ajar, serta membuat rancangan pembelajaran (RPP) berdasarkan strategi yang dipilih. 5. Pembelajaran yang mendidik. 6. Memanfaatkan teknologi atau media pembelajaran, 7. Kemampuan untuk mengevaluasi serta merevisi hasil belajar, 8. Mengembangkan peserta didik untuk Menerapkan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi Kepribadian merupakan kemampuan personal/pribadi guru dalam menunjukkan kepribadian yang mantap, baik, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan dan model yang baik bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi kepribadian meliputi: 1. Beriman dan bertakwa artinya memiliki kepercayaan yang kuat serta menjalankan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarangnya. 2. Berakhlak mulia artinya berperilaku sesuai dengan norma agama (baik, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik. 3. Bijaksana artinya mencerminkan tindakan yang didasarkan pada sekolah dan masyarakat yang menunjukkan sikap terbuka (keterbukaan dalam berpikir dan bertindak). 4. Demokratis mampu membaur dengan orang lain, mudah beradaptasi, berpartisipasi. 5. Mantap artinya mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. 6. Berwibawa artinya perilaku guru yang yang disegani oleh siswanya karena pembawaannya. 7. Stabil artinya tetap pendirian. 8. Dewasa artinya menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru. 9. Jujur artinya melakukan sesuatu dengan tidak ada kedustaan atau kebohongan. 10. Sportif artinya tidak memiliki salah satu pihak. 11. Dapat menjadi teladan atau model yang baik bagi peserta didik dan masyarakat. 12. Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri. 13. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran dalam menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang masuk ke dalam materinya, serta menguasai struktur dan metodologi keilmuan yang ia miliki Kompetensi profesional yang meliputi penguasaan: 1. Materi pelajaran, struktur, konsep dan pola pikir secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan di ampu; dan 2. Konsep dan metode seperti disiplin keilmuan, teknologi, seni, yang secara konseptual (tertulis) terlibat dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran yang akan di ampu.

Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk untuk berinteraksi serta berkomunikasi dan bergaul dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi sosial yang meliputi kompetensi untuk: 1. Berkomunikasi secara efektif, empatik, lisan maupun tulis atau isyarat secara santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat. 2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara baik. 3. Bergaul yang baik, ramah dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik. 4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku. 5. Mudah membaur (beradaptasi) di tempat kerja yang memiliki keragaman sosial budaya. 6. Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

Daftar Pustaka

Darmadi Hamid. 2015. Tugas, Peran, Kompetensi dan Tanggung jawab menjadi guru profesional. Jurnal Edukasi. Vol. 13. No. 2 https://journal.ikippgriptk.ac.id/index.php/edukasi/article/view/113  

Sastrawan Ketut Bali. 2015. Profesionalisme guru dalam upaya meningkatkan mutu pelajaran. Jurnal Penjaminan Mutu. http//ejournal.ihdn.ac.id/index.php/JPM/article/view/73 

Selasa, 27 April 2021

Manajemen Kelas

 Bismillahirahmanirohim

"Manajemen Kelas"

Manajemen Kelas berasal dari kata “manajemen dan kelas”. Secara etimologis Manajemen berasal dari bahasa inggris “Management” yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Manajemen dari kata Management, diartikan sebagai proses menggunakan dan menyelenggarakan sumber daya sehingga dapat berjalan lancar, efektif, efisien serta tepat sasaran. Sedangkan secara istilah, Engkoswara dan Komariah menyebutkan bahwa Manajemen adalah suatu proses kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara individu ataupun kelompok dalam mengkoordinasi dan menggunakan berbagai sumber untuk mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif dan efisien (Nugraha, 2018: 30).

Menurut Hadari Nawawi dalam (Erwiyansah, 2017: 89) kelas dalam pengertian umum dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Beliau juga memandang kelas dari dua sudut, yaitu: 1) kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. 2) kelas dalam arti luas: sebagian masyarakat yang merupakan bagian dari warga sekolah, dalam satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis digunakan dalam proses belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

Manajemen kelas merupakan suatu ketrampilan yang perlu dimiliki guru dalam memahami, mendiagnosis, memutuskan dan kemampuan bertindak menciptakan suasana kelas yang dinamis serta kondusif. Oleh karena itu, seorang guru memiliki peran yang cukup penting terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu dan membimbing perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru melakukan dua tugas pokoknya yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Pada hakikatnya kegiatan mengajar adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Sedangkan kegiatan mengelola kelas berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Manajemen Kelas merupakan kegiatan inti di dalam pendidikan yang di mana semuanya mencakup seluruh jenis manajemen pendidikan. Di dalam manajemen kelas ini terdapat istilah “pengelolaan kelas” baik bersifat intruksional maupun manajerial. Oleh karenanya manajemen kelas digunakan sebagai upaya mengelola siswa di dalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pembelajaran dengan jalan menciptakan dan meningkatkan motivasi siswa untuk selalu ikut aktif dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah.

Unsur-unsur Manajemen

a. Manusia (Man)

Manusia adalah unsur terpenting di dalam manajemen yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Uang (Money?

Uang digunakan sebagai modal untuk memulai suatu kegiatan.

c. Bahan Baku (Material)

Bahan baku merupakan modal untuk memulai suatu manajemen yang baik. Contohnya: peserta didik.

d. Mesin (Machine)

Karena adanya perkembangan teknologi, maka tidak menutup kemungkinan mesin (teknologi) dipakai sebagai penunjang terlaksana kegiatan manajemen kelas.

e. Metode (Method)

Metode merupakan hal terpenting untuk mencapai sasaran. Contohnya Metode kerja sangat dibutuhkan agar mekanisme kerja berjalan efektif dan efisien.

f. Informasi (information)

Unsur-unsur Pengelolaan Kelas

a. Preventif merupakan upaya yang dilakukan guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran. Salah satu upaya atau keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang guru untuk mendukungnya antara lain :

1) Peka. Sikap peka maksudnya guru mampu mengetahui sesegera mungkin untuk merespon terhadap berbagai perilaku atau aktivitas yang mengganggu pembelajaran atau berkembangnya sikap maupun sifat negatif dari siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya.

2) Perhatian merupakan sikap di mana guru selalu memberikan perhatian pada peserta didik pada aktivitas lingkungan maupun aktivitas lainnya. Perhatian merupakan suatu bentuk keterampilan dan kebiasaan yang perlu dimiliki oleh guru.

b. Refrensif merupakan keterampilan untuk tidak melakukan tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif merupakan suatu unsur dari keterampilan untuk mengelola kelas.

c. Modifikasi tingkah laku seperti:

1) Pengelolaan Kelompok

2) Diagnosis (keterampilan untuk mencari tahu penyebab gangguan maupun yang menjadi kekuatan untuk meningkatkan proses pembelajaran).

Fungsi Manajemen Kelas

Fungsi manajemen kelas menurut Karwati dan Priansya dalam (Nugraha, 2018: 32-33) adalah:

1. Fungsi perencanaan kelas.

Perencanaan merupakan usaha untuk mencapai target yang ingin dicapai atau diraih di masa depan. Perencanaan kelas penting bagi guru karena berfungsi untuk: a. menjelaskan dan merincikan tujuan yang ingin dicapai di dalam kelas. b. Menetapkan peraturan untuk diikuti agar tujuan kelas dapat tercapai dengan efektif. c. memberikan tanggung jawab kepada peserta didik. d. Memonitor aktivitas yang ada di kelas agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2. Fungsi pengorganisasian kelas

Mengorganisasikan berarti: a. Menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan. b. Merancang dan mengembangkan peserta didik dengan kemampuan berbeda-beda. c. Memberikan tugas ke peserta didik untuk bertanggung jawab pada tugasnya.

3. Fungsi kepemimpinan kelas

Menciptakan kelas yang kondusif merupakan tanggung jawab guru di dalam kelas. Oleh karenanya, guru perlu memimpin, mengarahkan, memotivasi, dan membimbing peserta didik untuk dapat melaksanakan proses belajar dan pembelajaran yang efektif sesuai dengan fungsi dan tujuan pembelajaran.

4. Fungsi pengendalian kelas

Pengendalian adalah proses yang digunakan untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian melibatkan: a. Menetapkan standar penampilan kelas. b. Menyediakan alat ukur standar penampilan kelas. c. Membandingkan kerja dengan standar yang ditetapkan di kelas. d. Mengambil tindakan secepatnya jika terdapat penyimpangan yang tidak sesuai dengan tujuan kelas.

Dalam jurnal Erwinyansah: 2017 disebutkan fungsi manajemen kelas yaitu:

a. Memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada guru tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pembelajaran yang d untuk mencapai tujuan itu.

b. guru dalam memperjelas maksud pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.

c. pola acuan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.

d. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid serta mendorong motivasi belajar.

e. Di dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikulum yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu.

f. Membantu guru dalam mengajar serta memberikan bahan-bahan yang up-to-date (terbaru) kepada murid.

g. Membantu murid untuk menghormati gurunya dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapan-harapan mereka.

h. Memberikan peluang bagi guru untuk memperbaiki pribadinya dan mengembangkan profesionalnya.

i. Membantu guru untuk percaya diri dan menjamin atas diri sendiri.

Tujuan Manajemen Kelas

Tujuan dari Manajemen kelas secara umum adalah untuk menciptakan kondisi lingkungan kelas yang baik, kondusif yang memungkinkan siswa untuk melakukan sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan tujuan manajemen kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu: agar siswa dapat bekerja dengan tertib, sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien dan agar guru mampu menguasai kelas dengan menggunakan berbagai macam dan strategi untuk memecahkan masalah yang ada (Erwinsyah, 2018: 92-93)

Prinsip Manajemen Kelas

Pengelolaan pembelajaran yang baik harus dilaksanakan sesuai prinsip-prinsip mengajar. Ia harus mempertimbangkan segi dan strategi pembelajaran, dirancang secara sistematis, bersifat konseptual tetapi praktis, realitas dan fleksibel, baik yang menyangkut masalah interaksi pembelajaran, pengelolaan kelas, pemanfaatan sumber belajar (pengajaran) maupun evaluasi pembelajaran. Dengan begitu manajemen kelas akan lebih efektif (Nugraha, 2018: 33)

Faktor yang mempengaruhi Manajemen Kelas

a. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran adalah upaya antara guru dan siswa untuk berbagi dan mengolah informasi, yang bertujuan agar pengetahuan yang diberikan dapat bermanfaat dalam diri siswa dan menjadi landasan belajar yang berkelanjutan, serta dengan harapan adanya perubahan yang lebih baik untuk mencapai peningkatan yang positif yang ditandai dengan perubahan tingkah laku individu. Proses pembelajaran yang baik akan membentuk kemampuan intelektual, berpikir kritis dan menumbuhkan kreativitas serta perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.

b. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa dan merangsang keingintahuan serta memotivasi kemampuan mereka (Dahar, 1996: 106). Tujuan pembelajaran dibagi menjadi tiga yaitu: Tujuan kognitif (perkembangan intelektual). Tujuan afektif mengenai perkembangan sikap, perasaan, nilai-nilai (perkembangan moral). Dan tujuan psikomotorik, menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung unsur-unsur motorik.

c. Komponen-komponen Pembelajaran

Komponen yang mempengaruhi berjalannya suatu proses pembelajaran menurut Djamarah (2013: 48), dalam kegiatan belajar mengajar yaitu: 1) guru, 2) siswa, 3) materi pembelajaran, 4) metode pembelajaran, 5) media pembelajaran, 6) evaluasi pembelajaran.

Perencanaan Manajemen Kelas

1. Menyusun Kalender Pendidikan, Prota dan Promes

2. Menyusun Silabus

3. Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)

Pelaksanaan Manajemen Kelas

1. Memotivasi siswa agar berkonsentrasi pada Pelajaran

2. Mengondisikan siswa untuk siap belajar di kelas

3. Pemberian stimulus supaya aktif di kelas

4. Suasana kelas

5. Ruang kelas (Pengaturan tempat duduk)

6. Metode Pembelajaran

7. Penggunaan Media

Faktor Pendukung dan Penghambat Manajemen Kelas yang dikutip dalam jurnal (Nugraha, 2018: 40-41). Faktor penghambat di antaranya:

1. Kelas yang mendapat jam pelajaran tambahan karena kegiy

2. Siswa kurang disiplin dalam mengerjakan tugas.

3. Siswa kurang aktif di kelas

4. Siswa sering keluar masuk kelas dengan alasan ke WC.

Sedangkan faktor yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar adalah tersedianya fasilitas-fasilitas sarana dan prasarana yang cukup lengkap seperti LCD dikelas, buku-buku perpustakaan yang memadai, terjalinnya koordinasi yang baik antara guru-guru, dan dukungan dari pihak sekolah serta dukungan dari orang tua.

Strategi Guru untuk Meningkatkan Proses Pembelajaran yang dikutip dalam jurnal (Nugraha, 2018: 41-42)

1. Memotivasi siswa yaitu pemberian dorongan kepada siswa untuk memusatkan perhatian pada pelajaran.

2. Mengikutsertakan siswa dalam proses KBM yaitu Bagaimana guru memandang suatu persoalan dan teori apa yang digunakan dalam memecahkan suatu kasus, karena hal tersebut akan mempengaruhi ingatannya

3. Mengkondisikan siswa untuk siap belajar dikelas yaitu Kesiapan mental siswa untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh guru.

4. Memberi stimulus agar siswa aktif bertanya di kelas.

5. Menggunakan metode yang tepat dan beragam.

Daftar Pustaka

Erwinsyah Alfian. 2017. Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektivitas Proses Belajar Mengajar. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 5 No. 2

Nugraha Muldiyana. 2018. Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran. Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan. Vol. 4 No. 1



Senin, 19 April 2021

Manajemen Sekolah

 Bismillahirahmanirohim

Manajemen Sekolah

A. Pengertian Manajemen Sekolah

Manajemen merupakan sebuah proses mengatur atau mengelola sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan sekolah merupakan lembaga pendidikan sebagai proses belajar mengajar, mendidik, menerima dan memberikan ilmu serta menciptakan karakter siswa yang baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen sekolah berarti proses mengatur dan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Secara garis besar manajemen sekolah dan manajemen pendidikan memiliki pengertian yang hampir sama. Yang di mana manajemen pendidikan diartikan sebagai administrasi pendidikan. Administrasi pendidikan merupakan proses pengelolaan segala sesuatu baik pribadi spiritual maupun material yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan (Purwanto, 2008) yang dikutip dalam buku “Manajemen sekolah” (Nurdyansyah, 2017).

Dalam hal lain James. Jr (2007:14) yang dikutip oleh (Widodo, 2017) mendefinisikan manajemen sekolah sebagai proses pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menciptakan sekolah yang efektif dan efisien. Tujuan pendidikan yang efektif dan efisien merupakan tujuan yang jelas, menggunakan bahasa yang baku agar mudah dipahami, program disusun secara menyeluruh dan saling berhubungan dengan program lain sehingga saling memberikan manfaat yang positif.

Manajemen dikatakan baik apabila manajemen tersebut sesuai dengan konsep dan program yang telah dirancang untuk mencapai sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, pemimpin yang menjabat sebagai manajer di lingkungan sekolah perlu merencanakan manajemen yang bisa dijalankan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati bersama. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen atau pengelolaan merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan (Nurdyansyah, 2017).

Berdasarkan fungsi pokok istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu:

1. Merencanakan (planning)

2. Mengorganisasikan (organizing)

3. Mengarahkan (directing)

4. Mengkoordinasikan (coordinating)

5. Mengawasi (controlling)

6. Mengevaluasi (evaluation)

B. Prinsip Manajemen Sekolah

1. Equifinality (Ekufinalitas)

merupakan prinsip yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi di sini sekolah harus mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dengan cara yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada meskipun masalahnya sama namun penyelesaian setiap sekolah pasti berbeda-beda.

2. Decentralization (Desentralisasi)

Di sini prinsip desentralisasi sejalan dengan prinsip Ekufinalitas yaitu sebelum adanya desentralisasi sekolah dipersilakan memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang, bergerak, dan bekerja dengan cara masing-masing untuk mengatur dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien. Tanpa adanya desentralisasi maka sekolah tidak dapat dilaksanakan dan kendala lambatnya pemecahan masalah secara cepat tepat dan efisien.

3. Self Management System’ (Sistem Manajemen Sendiri)

Merupakan prinsip bahwa sekolah harus dikelola sendiri dengan hal tersebut memungkinkan sekolah untuk lebih kreatif inovatif dan berinisiatif serta bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah.

4. Human Initianif (inisiatif manusia)

Merupakan prinsip yang mengakui bahwa manusia bukan sumber daya yang statis (diam) melainkan dinamis (bergerak). Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus digali dan dicari serta dikembangkan.

C. Ruang Lingkup Kajian Manajemen Sekolah

1. Berdasarkan Objek Garapan

Objek garapan merupakan aktivitas yang mencakup manajemen di sekolah secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dalam kegiatan mendidik yaitu:

a. Manajemen Peserta didik

Merupakan kegiatan sadar yang direncanakan dan diupayakan oleh sekolah untuk membina secara berkelanjutan terhadap seluruh peserta didik agar dapat mengikuti proses belajar mengajar secara aktif, efektif dan efisien, demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

b. Manajemen Personil Sekolah

Merupakan proses kegiatan untuk pembinaan para pegawai di sekolah, agar mereka dapat membantu atau menunjang kegiatan sekolah secara efektif dan efisien agar tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

c. Manajemen Kurikulum

Merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pendidik (guru), peserta didik, dan seluruh warga sekolah.

d. Manajemen Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan suatu sumber daya dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan penyediaan, penggunaan, perawatan dan pemakaian sarana dan prasarana pendidikan, maka diperlukan penyesuaian antara manajemen sarana dan prasarana. Yang dimana sekolah ditekankan untuk mandiri dalam mengatur sekolah.

e. Manajemen Tatalaksana

Manajemen tatalaksana ini merupakan kegiatan mencatat, menyimpan, menghimpun, mengelola, yang pada hakikatnya digunakan sebagai penunjang seluruh garapan manajemen sekolah.

f. Manajemen Pembiayaan atau Keuangan

Manajemen keuangan merupakan substansi administrasi pendidikan yang secara khusus menangani tugas-tugas yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan di sekolah. Manajemen ini, bertujuan untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin  dalam hal pembiayaan sekolah yang meliputi biaya internal dan eksternal.

g. Manajemen Organisasi

Manajemen organisasi merupakan suatu cara yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan organisasi yang ada di sekolah yaitu, dengan pembagian kerja dan tata kerja sekolah.

h. Manajemen Humas dan Kerjasama

Manajemen Humas dan Kerjasama merupakan manajemen yang bertujuan untuk mendapatkan simpati dan menarik perhatian masyarakat. Yang dimana manajemen ini digunakan untuk kegiatan operasional sekolah/pendidikan secara efektif dan efisien, untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

2. Berdasarkan fungsi Manajemen

3. Wilayah Kerja

a. Manajemen pendidikan seluruh negara

b. Manajemen Pendidikan satu Provinsi

c. Manajemen Pendidikan satu Kabupaten/Kota

d. Manajemen Pendidikan satu unit kerja

e. Manajemen kelas

4. Berdasarkan Pelaksanaan

D. Fungsi Manajemen

1. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan suatu tindakan pertama di dalam proses manajemen. Menurut Robbins yang dikutip dalam bukunya oleh (Nurdyansyah, 2017) bahwa perencanaan merupakan salah satu proses yang menentukan tujuan dan menetapkan cara tepat serta cocok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Definisi lain menyatakan bahwa perencanaan adalah konsep yang dapat melihat atau merencanakan sepuluh tahun kedepan, dua puluh tahun kedepan (program kerja jangka panjang) mengenai apa dan bagaimana rencana yang diinginkan. Dengan adanya perencanaan maka dapat digunakan untuk mengarahkan, mengurangi pengaruh lingkungan, serta merancang standar yang memudahkan para pengawas dalam mengawasi jalannya rencana tersebut.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian (organizing) merupakan suatu proses di mana didalamnya terdapat aktivitas mengkoordinasi hasil-hasil yang akan dicapai agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dan terlaksana dengan baik. Pengorganisasian juga diartikan sebagai proses yang memposisikan seseorang dalam struktur organisasi sehingga ia memiliki tanggung jawab, peran, tugas dan kegiatan yang  dilakukan berkaitan dengan fungsi organisasi dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama melalui perencanaan.

3. Menggerakkan (Actuating)

Menggerakkan merupakan suatu usaha untuk membuat semua orang berusaha untuk mencapai tujuan atau target sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sejak awal sehingga dapat dilaksanakan dengan baik.

4. Kepemimpinan (Leadership)

Mondy dan Premeaux, yang dikutip oleh (Widodo, 2017) menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan, agar pemimpin mereka melakukannya sesuatu yang diperintahkannya tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang di sekitarnya.

5. Pengawasan (Controlling)

Pengawasan merupakan sebuah aktifitas yang di dalamnya terdapat kegiatan mengamati (observasi) yang dilakukan oleh manager dalam upaya memastikan bahwa hasil yang terkait sesuai dengan hasil yang telah direncanakan untuk peserta didik.

6. Penyusunan (Staffing)

Penyusunan yaitu proses pengambilan karyawan, pemanfaatan sarana dan prasarana, pelatihan, pendidikan dan pengembangan sumber daya karyawan  agar lebih efektif.

Adapun beberapa Faktor Pendukung dalam keberhasilan sebuah Manajemen Sekolah bermutu antara lain;

a. Kepemimpinan dan Manajemen sekolah yang baik

b. Kondisi sosial, ekonomi, apresiasi serta dukungan masyarakat terhadap pendidikan yang diselenggarakan.

c. Dukungan pemerintah serta

d. Kinerja yang Profesional

Daftar Pustaka

Nurdyansyah, Widodo Andiek. 2017. Manajemen Sekolah Berbasis ICT. Sidoarjo: Nizamia Learning Center. 


Selasa, 13 April 2021

Kultur Sekolah

Bismillahirahmanirohim

"Kultur Sekolah"

     Kultur berasal dari kata culture/budaya yang berarti pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Sedangkan Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yang mana di dalamnya terdapat proses belajar, tempat menerima dan memberi ilmu pengetahuan serta tempat pembentukan karakter. Sebagaimana pendapat Johansson, Brorwnlee, Cobb-Moore, Boulton-Lewis dan Aildwood (2011, hal. 109) yang dikutip oleh (Sobri, 2019) bahwa sekolah merupakan lembaga yang digunakan sebagai lembaga untuk mempersiapkan siswa di kehidupan yang akan datang (masa depan), baik secara akademis maupun secara agen moral dalam masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa Kultur Sekolah atau Budaya Sekolah merupakan bentuk kumpulan norma-norma, nilai-nilai, keyakinan, adat istiadat, yang tumbuh dan berkembang di sekolah sekaligus memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lainnya. 

     Kultur sekolah bisa mempengaruhi cara orang berpikir, merasa dan melakukan sesuatu. Oleh karena itu, Kultur Sekolah dapat menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik serta sebagai proses pembelajaran bagi siswa dalam menciptakan sekolah yang berkualitas (Ariefa, 2013). Kultur sekolah juga digunakan untuk menyelesaikan kesulitan dan masalah yang sedang dihadapi sekolah dalam menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter yang baik. Bukan hanya itu saja, Kultur sekolah juga dipergunakan untuk menghadapi problem dalam beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga nilai dan pendapat tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar memiliki pandangan tentang bagaimana seharusnya, berpikir, merasakan, dan bertingkah laku dalam menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada (Nursaptini, 2019).

     Kultur sekolah memiliki peran membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan terlaksananya proses pembelajaran siswa. Kultur sekolah ini meliputi faktor material dan non-material. Faktanya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tidak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak cukup . Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural dapat dilakukan secara seimbang.

     Dalam mengembangkan kultur sekolah, terdapat berbagai alternatif yang dapat disesuaikan dengan visi-misi dan kondisi sekolah, serta data diri siswa dalam berbagai kecerdasan. Sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang dimiliki, yang bisa menjadi identitas kultur masyakarat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk membanggakan kelebihan sekolah masing-masing yang unik. Dan semua ini tergantung peranan pimpinan sekolah  dalam menggerakkan dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah.

     Dapat diketahui, bahwasanya sekolah itu merupakan suatu sistem yang memiliki tiga aspek pokok yang berkaitan dengan mutu sekolah yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah serta pembentukan karakter. Dengan berjalannya waktu dalam proses belajar mengajar pasti akan mengalami perubahan yang mana hal ini juga akan menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat. Oleh karenanya, semua unsur dalam sekolah harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya masing-masing. Semua unsur sekolah harus senantiasa memperbaharui ilmu pengetahuannya dan harus mengembangkan kultur yang mendukung semangat belajar, disiplin, jujur, mandiri, kreatif dan inovatif.

     Kultur sekolah memiliki peranan dalam menghasilkan produktivitas kerja yang baik pada setiap individu dan unit kerja sekolah. Kultur sekolah dalam suatu lingkungan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Kepala Sekolah. Contohnya, kepuasan dan ketidakpuasan bawahan dalam bekerja yang berhubungan dengan pola kepemimpinan. Dilaporkan oleh Farrow, Valensi, dan Basa (dalam Mahtja, 1991) dalam jurnal (Roemintoyo, 2013) yang menyatakan bahwa keberadaan Kepala Sekolah dengan pola perilaku serta modal kepemimpinannya sangat mempengaruhi kultur sekolah yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Oleh karenanya, sekolah sebagai suatu institusi pendidikan perlu membangun hubungan yang kompak antar warga sekolah dengan cara yang positif untuk memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan.

     Kebudayaan Sekolah ini adalah bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri khas yang unik sebagai sub-kebudayaan atau sub-culture (Nasution, 1999). Contohnya, dari segi pakaian, bahasa yang digunakan, kebiasaan yang dilakukan, kegiatan-kegiatan serta ritual atau upacara yang dilakukan.

     Faktor yang membentuk kultur sekolah ini dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah itu sendiri, serta interaksi dengan warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, administrasi sekolah, tata usaha, antar individu sendiri bahkan materi pelajaran. Hal ini menyebabkan nilai, moral, sikap, dan perilaku siswa dapat tumbuh dan berkembang di sekolah.

Kultur sekolah memiliki unsur-unsur seperti:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan lingkungan sekolah

2. Warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, administrasi, tata usaha dan lain-lain)

3. Kurikulum sekolah

4. Letak, sarana dan prasarana sekolah.

Aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan nilai

Hal ini digunakan untuk menciptakan norma-norma yang positif dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambah semangat untuk memperbaiki sekolah. Sebagaimana Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.

 Kutipan tersebut menjelaskan bahwa, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau pengenalan masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis atau antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986).

Oleh karena itu, nilai bukan hanya sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan kumpulan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif.

2. Upacara dan Perayaan

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Hal ini digunakan untuk membangun hubungan baik antara warga sekolah dengan budayanya.

3. Sejarah dan cerita

Hal ini bertujuan untuk membangkitkan dan menumbuhkan semangat dalam berbudaya. Sejarah pada setiap budaya sekolah merupakan aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang ikut membentuk budaya yang berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, sejarah masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4. Arsitektur dan artefak

Dalam hal ini biasanya disebut sarana dan prasarana sekolah yaitu arsitektur, motto, kata-kata mutiara dan tindakan yang di mana hal ini sangat efektif dalam menumbuhkan nilai dan semangat sekolah. Contohnya, poster, majalah dinding (Mading), spanduk, logo dan lain-lain.

Kultur sekolah memiliki beberapa implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011) dalam jurnal (Ariefa, 2013). Namun demikian, dalam pelaksanaannya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

1. Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya fektivitas dan produktivitas sekolah). Yaitu guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan.

2. Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah). Yaitu di sekolah, budaya sangat menghargai kolegialitas dan kolaborasi.

3. Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

4. Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para sttaf, siswa dan tenaga administrasi). Orang-orang termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah tujuan yang baik.

5. Culture amplifies the energy, motivation, and vtality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat). Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf.

6. Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

Mermacam-macam kultur sekolah yang dapat dikembangkan yaitu:

1. Prestasi akademik

Yang di dalamnya terkait dengan mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

2. Prestasi Non-akademik

Yang di dalamnya terkait prestasi berdasarkan minat dan bakat seperti, olahraga, seni, keterampilan dan lain-lain. Dengan adanya prestasi non-akademik siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku kemanusiaan. Selama ini kebanyakan sekolah hanya menganggap penting prestasi akademik siswa sehingga kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3. Karakter

Yang di dalamnya menggambarkan pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik atau karakter positif seperti nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah, anti kekerasan, toleransi, keterbukaan, kebijaksanaan, kemanfaatan, tolong menolong, kasih sayang, keberanian dan lain-lain.

4. Kelestarian lingkungan hidup

Yang di dalamnya terdapat upaya untuk menjaga dan menciptakan kelestarian lingkungan hidup seperti membuat “Sekolah Hijau” atau “Green School”. Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

     Itulah beberapa contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Dan masih banyak lagi alternatif lain yang sesuai dengan karakteristik dan kreativitas masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidak ada model tunggal. Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan yang relatif (universal), namun sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas (unik) sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh institusi sekolah. Sub-kultur tersebut biasanya identik dengan kultur di masyarakat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki peluang untuk menjadi sekolah unggul, dengan keunggulan masing-masing yang khas. Setiap sekolah bahkan dapat saling mengisi secara kolaboratif, bukannya bersaing secara kompetitif. Semuanya kembali kepada bagaimana dan kemana pimpinan sekolah akan membawa dan mengarahkan sekolahnya. Karena pimpinan sekolah memiliki peran besar dalam membagikan nilai (shared values) dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah.

Daftar Pustaka

Efianingrum Ariefa. 2013. Kultur sekolah. Jurnal pemikiran sosiologi Vol. 2 No.1 hal 20-29

Roemintoyo. 2013. Manajemen kultur sekolah (Konsep, operasional, dan temuan-temuan penelitian). Jurnal IPTEK Vol. Vl No.2. hal 131-133

Sobri Muhammad. dkk. 2019. Pembentukan karakter disiplin siswa melalui kultur sekolah. Jurnal pendidikan IPS. Vol. 6 No. 1


Senin, 02 Desember 2019

Perjuangan Sevilla

Kisah Sevilla
      Sevilla Aryza Syativa adalah seorang gadis kecil yang cantik dan manis. Ia lahir pada tanggal, 3 Maret 2001 tepatnya hari Jum'at jam 03.00 wib di Desa Cendana Harum Kabupaten Sintang. Ia biasa dipanggil dengan sebutan Sevilla. Ia dikenal sebagai kembang desa, di Desa Cendana Harum. Wajahnya yang begitu rupawan membuat semua mata tertuju padanya. Setiap Sevilla keluar rumah, orang selalu melihat gerak-gerik nya, dan sevilla selalu bersikap ramah dan rendah hati kepada semua orang. Setiap orang yang dijumpainya, selalu ia tegur sapa meskipun terkadang ia tidak mengenalnya paling tidak ia tersenyum. Senyuman yang indah serta sikapnya yang tulus membuat banyak orang menyenanginya. Sevilla juga dikenal sebagai anak  yang rajin serta ulet dalam bekerja. Setiap harinya ia bekerja mencari kayu bakar di Hutan untuk memenuhi  semua kebutuhan hidupnya. Ia selalu optimis dalam menjalani lika - liku kehidupan yang begitu sulit, ia selalu berpikir bahwa suatu saat nanti kebahagiaan yang sesungguhnya akan ia dapatkan. Hanya saja ia harus bersabar menunggu hal itu. Orang-orang di desa sudah tahu tentang kisah perjalanan hidupnya yang begitu pahit. Ya, Sevilla merupakan gadis yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk yang begitu sederhana. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir ke dunia dan Ibunya meninggal karena sakit parah saat ia berusia lima tahun. Di usia sebelia itu ia sudah harus merasakan kerasnya kehidupan. Sejak saat itu, ia hanya tinggal seorang diri, hari-harinya  ia habiskan untuk bekerja menjadi penjual kayu bakar di pasar serta sorenya ia habiskan untuk memancing ikan segar di sungai. Perjalanan hidup yang begitu getir tidak membuatnya patah semangat. Meskipun kita tahu hidupnya begitu menyedihkan, namun ia masih bisa tersenyum dan tertawa di  depan orang-orang. Meskipun dibalik senyumannya itu tersimpan segudang kesedihan yang ia tutupi. Lantas ia tidak mau kesedihannya sampai terlihat di mata orang yang melihatnya.
       Sevilla Aryza Syativa sangat mencintai boneka Bear, boneka itu selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Meskipun sekarang usianya delapan belas tahun, tetap saja ia tidak malu untuk membawa boneka Bear itu. Boneka Bear merupakan boneka kesayangannya, boneka itu adalah boneka yang sengaja ayahnya belikan untuk anaknya yaitu Sevilla, boneka Bear itu ayahnya belikan saat Sevilla dalam kandungan. Sebenarnya ayah Sevilla sangat menantikan kelahiran Sevilla, akan tetapi azal yang begitu cepat membuat ayahnya tidak bisa melihat kehadiran Sevilla disisinya. Sevilla merasa saat boneka Bear itu ada di dekatnya, ia merasakan bahwa ayah dan ibunya juga ada didekatnya. Oleh karena itu, ia selalu membawa boneka Bear itu kemanapun ia pergi, walaupun ke sekolah. Sempat suatu ketika, boneka Bear itu disembunyikan oleh teman Sevila saat ia berada di sekolah, lalu temannya sengaja melakukan itu untuk mengelabui Sevilla berhubung hari itu ia ulang tahun. Lalu temannya memberikan boneka Bear yang baru dan menyembunyikan boneka Bear yang lama. Dan ternyata, Sevilla sangat sedih karena merasa kehilangan boneka Bear itu. Ia tiada hentinya menangis, lalu temannya pun meminta maaf kepada Sevilla atas sikapnya yang membuat Sevilla bersedih. Setelah hal itulah membuat teman-teman nya sadar bahwa Sevilla sangat mencintai boneka Bear itu, karena boneka itu merupakan satu-satunya kenangan Sevilla tentang orangtunya.
            Sevilla Aryza Syativa, merupakan perempuan yang sangat rendah hati, ketika ia lulus SMA, hampir setengah pemuda yang ada di desanya, mencoba untuk melamarnya. Namun tetap saja ia menolaknya, karena ia merasa belum siap untuk menikah. Ia masih ingin mencapai cita-cita nya, yaitu menjadi wanita Sholehah agar bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia juga bercita-cita ingin menjadi seorang guru, agar bisa mengajarkan ilmunya untuk orang lain. Akan tetapi karena keadaan membuatnya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi ia berusaha mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah. Ia berusaha dengan sekuat tenaga dalam bekerja, dan berdoa agar ia bisa menggapai impiannya. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya, kalau ia bisa sukses. Yah, bisa dibilang Sevilla Aryza Syativa, merupakan wanita yang tangguh, rendah hati, ulet, dan pantas menjadi kembang desa di desanya.
Thanks for attention

Rabu, 27 November 2019

Coretan Kisah Atikah

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb
Coretan kisah Atikah 
     Saya mempunyai seorang teman baik, namanya Atikah Putri Dinanty. Biasa ia dipanggil Tika. Ia lahir pada tanggal 20 Maret 2001 di Merarai Satu Kabupaten Sintang provinsi Kalimantan Barat. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang sederhana dengan profesi ayahnya seorang guru matematika, dan ibu seorang ibu rumah tangga. Ayahnya bernama Sugeng dan ibunya bernama Nurlela. Atikah merupakan gadis kecil yang tidak manja, karena sejak kecil keluarganya menanamkan kemandirian. Itulah sebabnya mengapa Tika selalu sendiri, karena ia merasa bahwa ia bisa mandiri dan tidak ingin merepotkan banyak orang. Ketika kecil ia sudah mengenyam pendidikan TK Dharma Kartini bertempat di Merarai Satu Kabupaten Sintang. Ia juga melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 10 Pandan. Ia mulai masuk SD ketika berumur tujuh tahun. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Sungai Te Belian Kabupaten Sintang. Sebelum masuk ke SMP , Tika pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantern selama enam bulan, akan tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan hingga ia pindah ke sekolah formal. Tetapi setidaknya ia sudah merasakan pahit manisnya menjadi anak santri. Setelah lulus SMP ia melanjutkan ke jenjang SMA Al- Muhajirin Pandan Kabupaten Sintang provinsi Kalimantan Barat. Ia mengambil jurusan MIPA, karena sesuai dengan bakat kemampuannya. Tika di kenal di sekolahnya sebagai anak yang rajin, ulet, giat , baik , serta pintar serta berprestasi. Ia mau mengajarkan kepada teman-  temannya apabila ada pelajaran yang kurang temannya pahami saat proses belajar mengajar. Tika dikenal sebagai anak yang bersosialisasi tinggi, hanya saja ketika ia mempunyai masalah, ia enggan untuk menceritakan masalahnya, ia lebih memilih untuk memendam masalah itu sendiri. Tika juga dikenal sebagai anak yang pintar matematika, oleh karena itu ketika ada olimpiade matematika antar sekolah, ia mengikutinya dan ia berhasil mendapat pencapaian prestasi yang cukup memuaskan, yaitu mendapat juara 3 pada lomba tersebut.
      Atikah Putri Dinanty merupakan sosok gadis yang berpostur tubuh tinggi serta sehat. Di dalam dunia hiburan, Tika suka menonton film genre Thriller, laga action, horor, anime, kartun, movie serta film-film yang romantis. Ia juga menyukai film-film Korea, bukan hanya itu saja Tika juga hobi dalam membaca Webtoon, komik, cerpen, novel dan lain-lain yang bernuansa buku. Mengenai makanan, Tika lebih menyukai makanan yang pedas, namun ia tidak menyukai makanan yang panas. Bisa dibilang Tika juga merupakan anak yang manis karena ia suka memakan es krim, apapun rasa es krim itu ia suka. Ia juga menyukai mawar merah, karena Tika suka hal yang berbau romantis.
        Saya mengenal Atikah Putri Dinanty, ketika saya memasuki dunia perkuliahan, karena kami sama-sama mengambil kelas PAI C di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Saya memang tidak mengenal Tika pada awalnya, saya awalnya beranggapan bahwa Tika itu anak yang angkuh, sombong, dan tidak mau bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Namun setelah saya cukup lama mengenalnya, saya baru sadar bahwa dugaan saya selama ini salah. Karena Tika yang saya kenal ini bukanlah orang seperti yang saya duga dahulu. Setalah saya dekat dengannya, saya baru tahu kalau Tika itu orang yang humoris, perhatian, pintar, mandiri ,serta tegas. Hanya saja Tika ini orangnya lebih tertutup, ia hanya ingin menceritakan masalahnya, dengan orang yang dikenalnya nyaman untuk berbagi cerita. Ia memang kelihatan angkuh, cuek, saat bergaul dengan orang yang belum dikenalnya namun pada dasarnya ia orangnya sangat baik dan perhatian. Saya juga mengenalnya sebagai anak yang mandiri, mungkin itu karena didikan orang tuanya yang selalu mengajarkan kemandirian pada dirinya, meskipun kita tahu bahwa Tika itu adalah anak wanita, yang pastinya butuh dimanjakan.
        Atikah Putri Dinanty memiliki cita - cita ingin menjadi seorang guru, ia ingin mengikuti jejak ayahnya, namun berbeda halnya Tika lebih memilih untuk menjadi guru pendidikan agama Islam dibandingkan guru matematika . Karena ia berharap dengan ia menjadi seorang guru agama, ia bisa mengajarkan pendidikan agama bukan hanya untuk orang lain, tetapi kepada anaknya nanti. Ia ingin menjadi seorang ibu yang baik bagi anaknya, karena tika berpikir ilmu agama itu lebih penting dan berguna untuk di dunia maupun di akhirat. Ia juga ingin menjadi guru yang bisa membawa perubahan bagi bangsa ini, ia  berharap bisa mengubah akhlak, moral bukan hanya untuk keluarga saja namun juga orang lain terutama peserta didik nantinya. Sungguh cita - cita yang begitu mulia, saya sebagai teman baiknya begitu berbangga hati bisa mendapatkan teman seperti Tika. Kami berdua selalu berharap bisa menghadiahkan kado terindah untuk kedua orang tua kami, dan kami juga berharap bisa wisuda sama - sama. Semoga cita-cita mulia kami bisa tercapai. Aamiin ya rabbal Al-Amin.
        Demikianlah sejarah hidup singkat seorang Atikah Putri Dinanty, mahasiswi IAIN Pontianak Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Semoga yang membaca ini bisa mengambil sisi positif dari apa yang saya tulis.



Atikah Putri Dinanty



Foto bersama saat di kelas PAI 1 C


Foto bersama Atikah 



🍁Thank you very much for attention🍁